<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>BelajarKimia.com &#187; Sifat Koligatif Larutan</title>
	<atom:link href="http://belajarkimia.com/tag/sifat-koligatif-larutan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://belajarkimia.com</link>
	<description>situs rujukan belakar kimia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 15 Dec 2011 06:51:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Tekanan Osmotik</title>
		<link>http://belajarkimia.com/2010/07/tekanan-osmotik/</link>
		<comments>http://belajarkimia.com/2010/07/tekanan-osmotik/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Jul 2010 05:07:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indigoMorie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sifat Koligatif Larutan]]></category>
		<category><![CDATA[tekanan osmotik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://belajarkimia.com/?p=435</guid>
		<description><![CDATA[Apa itu Osmosis dan Tekanan Osmotik? Osmosis merupakan suatu proses dimana suatu liquid dapat melewati suatu membrane semi permeable secara langsung. Apabila terdapat dua buah liquid yang dipisahkan dengan suatu membrane semipermeabel (lihat gambar dibawah ini) dimana pada salah satu kaki berisi pelarut murni misalnya air, dan satu kaki yang lain berisi larutan NaCl dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Apa itu Osmosis dan Tekanan Osmotik?</strong><br />
Osmosis merupakan suatu proses dimana suatu liquid dapat melewati suatu membrane semi permeable secara langsung. Apabila terdapat dua buah liquid yang dipisahkan dengan suatu membrane semipermeabel (lihat gambar dibawah ini) dimana pada salah satu kaki berisi pelarut murni misalnya air, dan satu kaki yang lain berisi larutan NaCl dalam air.</p>
<p><a href="http://belajarkimia.com/wp-content/uploads/2010/07/tekanan-osmotiklarutan.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-436" title="tekanan osmotiklarutan" src="http://belajarkimia.com/wp-content/uploads/2010/07/tekanan-osmotiklarutan.gif" alt="tekanan osmotiklarutan" width="387" height="195" /></a></p>
<p>Dalam kasus ini maka molekul air dari larutan maupun dari pelarut murni secara random dapat melewati membrane semipermeable. Laju pergerakan molekul air dari air-larutan dengan laju pergerakan molekul air dari larutan-air ditentukan oleh besarnya entropi dan tekanan yang diaplikasikan ke salah satu kaki.</p>
<p>Karena entropi larutan adalah lebih besar dibandingkan dengan entropi pelarut murni maka secara spontan laju molekul air yang melewati air-larutan akan lebih cepat dibandingkan dengan laju molekul air dari larutan-air. Oleh sebab itu bila kita membiarkan kedua larutan untuk selang waktu tertentu maka ketinggian permukaan larutan pada salah satu kaki akan mengalamai kenaikan. Proses ini akan terus berlangsung sampai ketinggian &#8220;h&#8221; mencapai tinggi tertentu dimana pada ketinggian ini larutan memiliki tekanan yang dapat menyeimbangkan laju pergerakan molekul air dari larutan-air dan air-larutan. Tekanan inilah yang disebut sebagai &#8220;<strong>tekanan osmotik</strong>&#8220;. Tekanan osmotik merupakan salah satu <a title="sifat-koligatif-larutan" href="http://belajarkimia.com/sifat-koligatif-larutan/ ">sifat koligatif larutan</a>.</p>
<div id="attachment_437" class="wp-caption aligncenter" style="width: 170px"><a href="http://belajarkimia.com/wp-content/uploads/2010/07/tekananosmotik.gif"><img class="size-full wp-image-437" title="tekananosmotik" src="http://belajarkimia.com/wp-content/uploads/2010/07/tekananosmotik.gif" alt="" width="160" height="322" /></a><p class="wp-caption-text">tekananosmotik</p></div>
<p><strong>Cara Menghitung Tekanan Osmotik</strong></p>
<p>Tekanan osmotik suatu larutan encer adalah mematuhi hukum persamaan gas ideal yaitu:</p>
<p style="text-align: center;"><strong>PV = nRT</strong></p>
<p>Karena kita mengukur dalam sistem yang berupa larutan maka lebih mudah kita menggunakan satuan konsentrasi molaritas M.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>PV = nRT<br />
P = nRT/V</strong></p>
<p>karena M=n/V maka</p>
<p style="text-align: center;"><strong>P = MRT</strong></p>
<p>Tekanan osmotik biasa dilambangkan dengan lambag phi (phi) maka rumus diatas cenderung ditulis sebagai:</p>
<p style="text-align: center;"><strong><a href="http://belajarkimia.com/wp-content/uploads/2010/07/rumustekananosmotik.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-441" title="rumustekananosmotik" src="http://belajarkimia.com/wp-content/uploads/2010/07/rumustekananosmotik.jpg" alt="rumustekananosmotik" width="151" height="80" /></a></strong></p>
<p>dimana:<br />
phi = tekanan osmotik<br />
M = molaritas larutan<br />
T = temperature dalam kelvin<br />
R = tetapan gas, nilainya 0.082 L.atm/K.mol<br />
i = faktor Van&#8217;t Hoff</p>
<p><strong>Manfaat Belajar Tekanan Osmotik</strong></p>
<p>Tekanan osmotik berpegaruh terhadap sel didalam tubuh, pengaruh tekanan osmotik berhubungan dengan &#8220;osmoregulasi&#8221; yaitu mekanisme homeostatis suatu sel organisme untuk mencapai kesetimbangan tekanan osmotik dengan lingkungannya. Jika tekanan osmotik didalam sel dengan luar sel seimbang maka dikatakan sebagai keadaan isotonik pada keadaan ini volume sel tidak mengalami perubahan volume. Jika tekanan osmotik didalam sel lebih besar maka cairan dalam sel bisa keluar sehingga sel akan mengkerut, sebaliknya disebut hipotonik yaitu liquid diluar sel akan masuk ke sel sehingga sel akan bertambah besar.</p>
<p><a href="http://belajarkimia.com/wp-content/uploads/2010/07/isotonik.png"><img class="aligncenter size-medium wp-image-438" title="isotonik" src="http://belajarkimia.com/wp-content/uploads/2010/07/isotonik-300x157.png" alt="isotonik" width="300" height="157" /></a></p>
<p><strong>Reverse Osmosis/Osmosis Balik</strong></p>
<p>Bila tekanan yang diaplikasikan terhadap larutan adalah melebihi tekanan osmotiknya maka yang terjadi adalah molekul air akan mengalir melewati membrane semipermiable menuju ke air (pelarut). Osmosis balik bayak digunakan untuk membuat air minum dari air laut dan mengurangi kesadahan air minum. Proses osmosis balik digambarkan dalam gambar berikut:</p>
<p><a href="http://belajarkimia.com/wp-content/uploads/2010/07/reverse-osmosis.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-439" title="reverse osmosis" src="http://belajarkimia.com/wp-content/uploads/2010/07/reverse-osmosis-286x300.jpg" alt="osmosis balik" width="286" height="300" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://belajarkimia.com/2010/07/tekanan-osmotik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenaikan Titik Didih Larutan</title>
		<link>http://belajarkimia.com/2010/07/kenaikan-titik-didih-larutan/</link>
		<comments>http://belajarkimia.com/2010/07/kenaikan-titik-didih-larutan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Jul 2010 04:16:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indigoMorie</dc:creator>
				<category><![CDATA[kenaikan titik didih larutan]]></category>
		<category><![CDATA[Sifat Koligatif Larutan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://belajarkimia.com/?p=429</guid>
		<description><![CDATA[Berlawanan dengan penurunan titik beku larutan. Kenaikan titik didih larutan merupakan fenomena meningkatkan titik didih suatu pelarut disebabkan adanya zat terlarut didalam pelarut tersebut. Ini berarti bahwa titik didih pelarut akan lebih kecil jika dibandingkan dengan titik larutan. Sebagai contoh titik didih air murni adalah 100 C jika kita melarutkan gula atau garam dapur ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://belajarkimia.com/wp-content/uploads/2010/07/kenaikantitikdidihlarutan.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-431" title="kenaikantitikdidihlarutan" src="http://belajarkimia.com/wp-content/uploads/2010/07/kenaikantitikdidihlarutan.jpg" alt="kenaikantitikdidihlarutan" width="300" height="210" /></a>Berlawanan dengan <a title="penurunan-titik-beku-larutan" href="http://belajarkimia.com/penurunan-titik-beku-larutan/ ">penurunan titik beku larutan</a>. Kenaikan titik didih larutan merupakan fenomena meningkatkan titik didih suatu pelarut disebabkan adanya zat terlarut didalam pelarut tersebut. Ini berarti bahwa titik didih pelarut akan lebih kecil jika dibandingkan dengan titik larutan. Sebagai contoh titik didih air murni adalah 100 C jika kita melarutkan gula atau garam dapur ke dalam air maka titik didihnya akan lebih dari 100 C.</p>
<p><strong>Bagaimana Kita Mengukur Kenaikan Titik Didih Larutan?</strong></p>
<p>Kenaikan titik didih larutan merupakan salah satu <a title="sifat-koligatif-larutan" href="http://belajarkimia.com/sifat-koligatif-larutan/ ">sifat koligatif larutan</a>, Untuk menghitung perubahan titik didih larutan maka kita bisa menggunakan persamaan berikut ini:</p>
<p style="text-align: center;"><strong>?Tb = Kb. m . i</strong></p>
<p>sedangkang titik didih larutan dicari dengan persamaan,</p>
<p>Tb = Tpelarut + ?Tb</p>
<p>dimana :</p>
<p>?Tb = penurunan titik beku larutan<br />
Tb = titik beku larutan<br />
m = molalitas larutan<br />
Kb = konstanta titik beku pelarut<br />
i = Faktor Van&#8217;t Hoff</p>
<p>Di bidang themodinamika konstanta titik beku pelarut, Kb lebih dikenal dengan istilah &#8220;<strong>Konstanta Ebulioskopik</strong>&#8220;. Ebulioskopik berasal dari bahasa Yunani yang artinya &#8220;mendidih&#8221;.</p>
<p>Faktor <strong>Van&#8217;t Hoff</strong> (i) adalah parameter untuk mengukur seberapa besar zat terlarut berpengaruh terhadap sifat koligatif (penurunan tekanan uap, kenaikan titik didih, penurunan titik beku, dan tekanan osmotik). Faktor Van&#8217;t Hoff dihitung dari besarnya konsentrasi sesunguhnya zat terlarut yang ada di dalam larutan dibanding dengan konsentrasi zat terlarut hasil perhitungan dari massanya. Untuk zat non elektrolit maka vaktor Van&#8217;t Hoffnya adalah 1 dan nonelektrolit adalah sama dengan jumlah ion yang terbentuk didalam larutan. Faktor Van&#8217;t Hoff secara teori dapat dihitung dengan menggunakan rumus:</p>
<p style="text-align: center;"><strong>i = 1 + (n-1)?)</strong></p>
<p>dengan ? adalah derajat ionisasi zat terlarut dan n jumlah ion yang terbentuk ketika suatu zat berada didalam larutan. Untuk non elektrolit maka alfa = o dan n adalah 1 dan untuk elektrolit dicontohkan sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: center;">C6H12O6  -&gt; C6H12O6   n = 1<br />
NaCl -&gt; Na+   +  Cl-    n = 2<br />
CaCl2  -&gt;  Ca2+   +  2Cl-  n = 3<br />
Na3PO4 -&gt;  3Na+  + PO4-  n = 4<br />
Cu3(PO4)2  -&gt; 3Cu2+   +  2PO43-  n = 5</p>
<p>Data nilai Kf beberapa pelarut adalah sebagai berikut:</p>
<p><a href="http://belajarkimia.com/wp-content/uploads/2010/07/dataKfdanKb1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-430" title="dataKfdanKb" src="http://belajarkimia.com/wp-content/uploads/2010/07/dataKfdanKb1.jpg" alt="data Kb" width="631" height="233" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://belajarkimia.com/2010/07/kenaikan-titik-didih-larutan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penurunan Titik Beku Larutan</title>
		<link>http://belajarkimia.com/2010/07/penurunan-titik-beku-larutan/</link>
		<comments>http://belajarkimia.com/2010/07/penurunan-titik-beku-larutan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Jul 2010 03:57:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indigoMorie</dc:creator>
				<category><![CDATA[penurunan titik beku larutan]]></category>
		<category><![CDATA[Sifat Koligatif Larutan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://belajarkimia.com/?p=424</guid>
		<description><![CDATA[Penurunan titik beku larutan mendiskripsikan bahwa titik beku suatu pelarut murni akan mengalami penurunan jika kita menambahkan zat terlarut didalamnya. Sebagai contoh air murni membeku pada suhu 0 C akan tetapi jika kita melarutkan contoh sirup atau gula didalamnya maka titik bekunya akan menjadi dibawah 0 C. Sebagai contoh larutan garam 10% NaCl akan memiliki [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://belajarkimia.com/wp-content/uploads/2010/07/penurunantitikbekularutan.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-426" title="penurunantitikbekularutan" src="http://belajarkimia.com/wp-content/uploads/2010/07/penurunantitikbekularutan.jpg" alt="penurunantitikbekularutan" hspace="10" vspace="10" width="300" height="200" /></a>Penurunan titik beku larutan mendiskripsikan bahwa titik beku suatu pelarut murni akan mengalami penurunan jika kita menambahkan zat terlarut didalamnya. Sebagai contoh air murni membeku pada suhu 0 C akan tetapi jika kita melarutkan contoh sirup atau gula didalamnya maka titik bekunya akan menjadi dibawah 0 C. Sebagai contoh larutan garam 10% NaCl akan memiliki titik beku -6 C dan 20% NaCl akan memiliki titik beku -16 C.</p>
<p><strong>Mengapa Kita Belajar Mengenai Fenomena Penurunan Titik Beku Larutan?</strong><br />
Fenomena penurunan titik beku larutan sangat menarik perhatian para ilmuwan karena hal ini bersinggungan langsung dengan kehidupan manusia contohnya, penggunaan etilen glikol sebagai agen &#8220;antibeku&#8221; yang dipakai di radiator mobil sehingga air ini tidak beku saat dipakai dimusim dingin. beberapa ikan didaerah artik mampu melepaskan sejumlah senyawa untuk menghindari darahnya beku, atau dengan menggunakan teknik penurunan titik beku kita dapat menentukan massa molar atau menentukan derajat disosiasi suatu zat.</p>
<p><strong>Bagaimana Mengukur Penurunan Titik Beku Larutan?</strong><br />
Penurunan titik beku larutan adalah salah satu<a title="sifat-koligatif-larutan" href="http://belajarkimia.com/sifat-koligatif-larutan/ "> sifat koligatif laruta</a>n. Untuk mengukur besarnya titik beku larutan kita membutuhkan dua hal berikut:</p>
<ol>
<li>Konsentrasi molal suatu larutan dalam molalitas.</li>
<li>Konstanta penurunan titik beku pelarut atau Kf.</li>
</ol>
<p>Rumus mencari perubahan titik beku larutan adalah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: center;"><strong>?Tf = m. Kf. i</strong></p>
<p>dan titik beku larutan dicari,</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Tf = Tpelarut murni &#8211; Tf</strong></p>
<p>dimana:</p>
<p>?Tf = penurunan titik beku larutan<br />
Tf = titik beku larutan<br />
m = molalitas larutan<br />
Kf = konstanta titik beku pelarut<br />
i = Faktor Van&#8217;t Hoff</p>
<p>Di bidang themodinamika konstanta titik beku pelarut, Kf lebih dikenal dengan istilah &#8220;<strong>Konstanta Krioskopik</strong>&#8220;. Krioskopik berasal dari bahasa Yunani yang artinya &#8220;mengukur titik beku&#8221;.</p>
<p><strong>Faktor Van&#8217;t Hoff </strong>(i) adalah parameter untuk mengukur seberapa besar zat terlarut berpengaruh terhadap sifat koligatif (penurunan tekanan uap, kenaikan titik didih, penurunan titik beku, dan tekanan osmotik). Faktor Van&#8217;t Hoff dihitung dari besarnya konsentrasi sesunguhnya zat terlarut yang ada di dalam larutan dibanding dengan konsentrasi zat terlarut hasil perhitungan dari massanya. Untuk zat non elektrolit maka vaktor Van&#8217;t Hoffnya adalah 1 dan nonelektrolit adalah sama dengan jumlah ion yang terbentuk didalam larutan. Faktor Van&#8217;t Hoff secara teori dapat dihitung dengan menggunakan rumus:</p>
<p style="text-align: center;"><strong>i = 1 + (n-1)?)</strong></p>
<p>dengan ? adalah derajat ionisasi zat terlarut dan n jumlah ion yang terbentuk ketika suatu zat berada didalam larutan. Untuk non elektrolit maka alfa = o dan n adalah 1 dan untuk elektrolit dicontohkan sebagai berikut:</p>
<p>C6H12O6  -&gt; C6H12O6   n = 1<br />
NaCl -&gt; Na+   +  Cl-    n = 2<br />
CaCl2  -&gt;  Ca2+   +  2Cl-  n = 3<br />
Na3PO4 -&gt;  3Na+  + PO4-  n = 4<br />
Cu3(PO4)2  -&gt; 3Cu2+   +  2PO43-  n = 5</p>
<p>Data nilai Kf beberapa pelarut adalah sebagai berikut:</p>
<p><a href="http://belajarkimia.com/wp-content/uploads/2010/07/dataKfdanKb.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-425" title="dataKfdanKb" src="http://belajarkimia.com/wp-content/uploads/2010/07/dataKfdanKb.jpg" alt="" width="631" height="233" /></a></p>
<p>Jika dilihat persamaan ?Tf = m.Kf.i maka kita bisa menentukan besarnya Faktor Van&#8217;t Hoff dari suatu zat terlarut dalam suatu pelarut dengan menggambar grafik antara ?Tf dengan m maka kita akan mendapatkan slope (gradien garis) yang setara dengan ixKf. Bila harga Kf pelarut diketahui maka kita pun dapat mencari nilai i-nya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://belajarkimia.com/2010/07/penurunan-titik-beku-larutan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penurunan Tekanan Uap Larutan</title>
		<link>http://belajarkimia.com/2010/07/penurunan-tekanan-uap-larutan/</link>
		<comments>http://belajarkimia.com/2010/07/penurunan-tekanan-uap-larutan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Jul 2010 02:42:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indigoMorie</dc:creator>
				<category><![CDATA[penurunan tekanan uap larutan]]></category>
		<category><![CDATA[Sifat Koligatif Larutan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://belajarkimia.com/?p=410</guid>
		<description><![CDATA[Sebelum kita membahas apa yang dimaksud dengan “penurunan tekanan uap” maka akan lebih mudah jika kita memahami terlebih dahulu tentang proses penguapan. Sediakan beaker glass yang berisi air. Apa yang terjadi pada volume air jika beaker glass berisi air tersebut dibiarkan ditempat terbuka untuk beberapa jam? Saya yakin kamu pasti tahu jawabanya, tentu saja volume [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelum kita membahas apa yang dimaksud dengan “<a title="penurunan tekanan uap larutan" href="http://belajarkimia.com/tekanan-uap-pelarut-murni-dan-tekanan-uap-larutan ">penurunan tekanan uap</a>” maka akan lebih mudah jika kita memahami terlebih dahulu tentang proses penguapan.</p>
<p>Sediakan beaker glass yang berisi air. Apa yang terjadi pada volume air jika beaker glass berisi air tersebut dibiarkan ditempat terbuka untuk beberapa jam? Saya yakin kamu pasti tahu jawabanya, tentu saja volume air akan berkurang disebabkan adanya proses penguapan.</p>
<p>Karena beaker glass tidak tertutup maka jika dibiarkan terus menerus air dalam beaker glass akan habis menguap semua. Hal ini berbeda jika kita melakukannya pada ruang tertutup. Sekarang sediakan air didalam wadah tertutup yang dihubungkan dengan pengukur tekanan seperti gambar dibawah ini:</p>
<p><a href="http://belajarkimia.com/wp-content/uploads/2010/07/tekananairmurni.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-411" title="tekananairmurni" src="http://belajarkimia.com/wp-content/uploads/2010/07/tekananairmurni-300x141.jpg" alt="penurunan tekanan uap larutan" width="300" height="141" /></a></p>
<p>Pada awal percobaan maka ketinggian dikedua kaki pipa akan sama sebab belum ada molekul air yang menguap. Bila kita biarkan beberapa jam maka terjadi perubahan ketinggian raksa pada pipa U (gambar tabung sebelah kanan).</p>
<p>Perubahan ketinggian kaki pada pipa U tersebut menandakan adanya tekanan yang disebabkan oleh molekul air yang telah menguap. Molekul air yang berada dipermukaan air akan mulai menguap terus menerus sampai diperoleh <strong>keadaan setimbang</strong>.</p>
<p>Pada keadaan setimbang ini maka jumlah molekul air yang menguap meninggalkan cairan akan sama dengan jumlah molekul air yang masuk kedalam cairan. Nah tekanan yang terjadi pada saat suatu liquid berada pada keadaan setimbang dengan uap molekul liquid yang berada diatasnya inilah yang disebut sebagai <strong>“Tekanan Uap Liquid”</strong>.<br />
Istilah liquid yang saya pakai diatas adalah merujuk pada air, etanol, bensena, dan senyawa-senyawa lain yang berwujud cair dimana zat ini pada umumnya dipakai sebagai pelarut, maka istilah “tekanan uap liquid” untuk pembahasan selanjutnya disebut sebagai<strong> “tekanan uap pelarut”</strong>.</p>
<p>Besarnya tekanan uap pelarut tidak terpengaruh oleh jumlah pelarut itu sendiri melainkan dipengaruhi oleh suhu. Jadi pada temperature yang berbeda maka tekanan uap pelarut akan berbeda pula. OK, misalnya pada suhu kamar (25 C) diperoleh bahwa tekanan uap air adalah sebesar 20 mmHg.</p>
<p>Bagaimana jika kita melarutkan zat yang nonvolatile (zat yang tidak mudah menguap) contohnya glukosa ke dalam air dan mengukur tekanan uapnya lagi? Misalnya pada suhu yang sama kita mengukur tekanan uap larutan glukosa dan diperoleh tekanan sebesar 18.5 mmHg.</p>
<p>Adanya zat terlarut di dalam suatu pelarut akan menurunkan tekanan uap pelarutnya. Contoh diatas adalah pada suhu 25 C tekanan uap air murni adalah 20 mmHg dan larutan glukosa dala air pada suhu yang sama tekanan uapnya adalah 18.5 mmHg</p>
<p>Nilai tekanan uap yang lebih kecil untuk larutan ini menandakan bahwa molekul pelarut menguap diatas larutan jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah molekul yang menguap diatas pelarut murni. Lihat gambar dibawah ini agar lebih mudah memahami.</p>
<p><a href="http://belajarkimia.com/wp-content/uploads/2010/07/penguapanmolekulpelarut.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-412" title="penguapanmolekulpelarut" src="http://belajarkimia.com/wp-content/uploads/2010/07/penguapanmolekulpelarut-300x149.jpg" alt="penurunan tekanan uap larutan dan pelarut murni" width="300" height="149" /></a></p>
<p>Perhatikan gambar diatas. Sebelah kiri adalah air, sedangkan disebelah kanan adalah larutan glukosa. Lingkaran putih menunjukkan molekul air yang menguap. Jumlah molekul diatas larutan jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan pelarut murni yang ada disebelah kiri.</p>
<p>Jika kita punya dua buah beaker dimana satu beaker berisi air dan yang lain berisi larutan asam sulfat, selanjutnyakeduanya kita tutup dengan penutup kaca (perhatikan gambar berikut):</p>
<p><a href="http://belajarkimia.com/wp-content/uploads/2010/07/penurunantekananuap.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-413" title="penurunantekananuap" src="http://belajarkimia.com/wp-content/uploads/2010/07/penurunantekananuap.jpg" alt="penurunantekananuap" width="493" height="310" /></a></p>
<p>Maka setelah beberapa jam volume air akan berkurang sedangkan volume larutan asam sulfat akan bertambah. Ini terjadi akibat tekanan uap pelarut murni lebih besar dibandingkan dengan tekanan uap larutan. Molekul air dari beaker yang berisi air akan terus menguap dan menuju ke permukaan larutan yang ada dibeaker berisi asam sulfat. Molekul-molekul air ini kemudian mengembun sehingga menyebabkan volume larutan asam sulfat bertambah. Hal ini akan terjadi terus menerus sampai diperoleh keadaan setimbang yaitu saat semua air habis.</p>
<p>Dari percobaan diatas kita tahu bahwa tekanan uap larutan adalah lebih besar dari tekanan uap pelarut oleh sebab itulah maka sifat koligatif ini disebut sebagai <strong>“Penurunan Tekanan Uap Larutan”</strong>.</p>
<p><strong>Mengapa tekanan uap larutan lebih rendah dari tekanan uap pelarutnya?</strong></p>
<p>1. Adanya zat terlarut di dalam suatu pelarut akan memperkecil jumlah molekul pelarut per unit volumenya, dengan semakin kecilnya jumlah molekul pelarut tiap satuan volume yang ada di dalam larutan jika dibandingkan dengan jumlah molekul pelarut yang terdapat dalam pelarut murni akan memperkecil pula jumlah molekul yang dapat menguap dengan demikian tekanan uapnya pun akan turun. Untuk mempermudah pengertian makavolume besar maka luas permukaan besar, sedangkan volume kecil maka luas permukaan kecil sehingga jumlah molekul H2O yang akan menguap pun jumlahnya berbeda.</p>
<p><a href="http://belajarkimia.com/wp-content/uploads/2010/07/tekananuaplarutan1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-414" title="tekananuaplarutan1" src="http://belajarkimia.com/wp-content/uploads/2010/07/tekananuaplarutan1.jpg" alt="tekanan uap larutan " width="493" height="219" /></a></p>
<p>2. Dalam bentuk energi (entropi) maka adanya zat terlarut dalam suatu pelarut akan meningkatkan ketidakteraraturan di dalam pelarut.</p>
<p><a href="http://belajarkimia.com/wp-content/uploads/2010/07/strukturmolekul.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-415" title="strukturmolekul" src="http://belajarkimia.com/wp-content/uploads/2010/07/strukturmolekul.jpg" alt="penurunan tekanan uap larutan" width="411" height="191" /></a></p>
<p>Campuran (contohnya larutan) memiliki entropi yang lebh besar dibandingkan dengan material tunggal (contoh pelarut murni). Kenaikkan entropi ini akan menaikkan energi yang diperlukan untuk memindahkan molekul pelarut dari fasa liguid ke fasa gas.</p>
<p><strong>Bagaimana Menghitung Penurunan Tekanan Uap Larutan?</strong></p>
<p>Hubungan antara tekanan uap larutan dengan tekanan uap pelarutnya dijabarkan oleh Francois M. Raoult dimana dia mengeluarkan rumus sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: center;"><strong>P= Xp.Po………(1)</strong></p>
<p>Dimana:<br />
P   = Tekanan uap larutan<br />
Po = Tekanan uap pelarut murni<br />
Xp = Fraksi mol pelarut</p>
<p>Fraksi mol (X) dinyatakan sebagai perbandingan antara mol suatu spesies dengan mol total dimana spesies itu berada. Jadi misalnya suatu larutan dibuat dari pelarut air dan zat terlarut berupa urea. Maka fraksi mol masing-masing dapat dinyatakan sebagai berikut:</p>
<p><strong>Xair =  mol air/mol air + mol urea </strong> dan       <strong> Xurea = mol urea/mol air + mol urea</strong></p>
<p>Jumlah fraksi mol setiap penyusun campuran jika dijumlahkan akan diperoleh nilai = 1, jadi untuk fraksimol larutan urea diatas maka :</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Xair + Xurea = 1</strong></p>
<p>Jika larutan hanya dibangun dari dua komponen yaitu pelarut (p) dan satu macam zat terlarut (t) maka hubungan fraksimol keduany dapat dinyatakan sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Xp + Xt = 1<br />
Xp = 1 – Xt…………(2)</strong></p>
<p>Menggabungkan persamaan 1 dan 2 akan diperoleh persamaan sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: center;"><strong>P= Xp.Po</strong></p>
<p>Dengan Xp = 1 – Xt maka diperoleh,</p>
<p style="text-align: center;"><strong>P = (1 – Xt)Po<br />
P = Po – Xt.Po<br />
P – Po = Xt.Po</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>?P  = Xt.Po…….(3)</strong></p>
<p>Persamaan 3 inilah persamaan yang dapat dipakai untuk menghitung berapa besarnya penurunan uap suatu larutan.</p>
<p><strong>Tips</strong><br />
Penurunan tekanan uap dapat dicari melalui persamaan 1 ataupun 3. Yang perlu diingat adalah jika Anda menggunakan rumus 1 maka fraksi mol yang dipakai adalah Xp (fraksi mol pelarut) jika menggunakan rumus 3 maka fraksi mol yang dipakai adalah Xt (fraksi mol zat terlarut).</p>
<p><strong>Bagaimana jika zat terlarut di dalam suatu pelarut bersifat volatile?</strong></p>
<p>Penjelasan diatas lebih kita fokuskan kepada suatu larutan yang zat terlarutnya bersifat nonvolatile, lalu bagaimana dengan larutan yag dibangun dari zat terlarut yang bersifat volatile?</p>
<p>Contoh campuran ini adalah air-etanol, bensena-toluena, atau aseton-etil asetat. Karena zat terlarut bersifat volatile maka uap zat terlarut ini berkontribusi terhadap total uap larutan. Uap yang terdapat didalam larutan jenis ini dibangun dari molekul zat terlarut dan molekul pelarut. Perhatikan gambar agar lebih mudah dimengerti.</p>
<p><a href="http://belajarkimia.com/wp-content/uploads/2010/07/larutanvolatil.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-419" title="larutanvolatil" src="http://belajarkimia.com/wp-content/uploads/2010/07/larutanvolatil-284x300.jpg" alt="lrutan volatil" width="284" height="300" /></a></p>
<p>Maka total tekanan uap larutan dapat dinyatakan dengan rumus:</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Plarutan = P1  +  P2  + P3 + ……..Pn</strong></p>
<p>Dengan,</p>
<p>P1 = X1.P1o<br />
P2 = X2.P2o<br />
P3 = X3.P3o<br />
Pn = Xn.Pno</p>
<p>Perlu diingat bahwa Hukum Rauolt berlaku hanya untuk larutan yang bersifat ideal atau larutan encer (dengan konsentrasi rendah. Dimana larutan ideal dicapai jika interaksi antara solute-solut, solvent-solvent, solute-solvent adalah hampir sama. Campuran yang memenuhi hukum Raoult (bersifat ideal) contohnya adalah bensena-toluena. Pencampuran keduaya menghasilkan entalpi yang hampir bernilai nol “0” sehingga campuran ini bersifat “ideal”. Grafik larutan ideal digambarkan dalam gambar berikut ini:</p>
<p><a href="http://belajarkimia.com/wp-content/uploads/2010/07/grafiklarutanideal.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-417" title="grafiklarutanideal" src="http://belajarkimia.com/wp-content/uploads/2010/07/grafiklarutanideal.jpg" alt="" width="297" height="343" /></a></p>
<p>Jika pada waktu melarutkan zat terlarut ke dalam suatu pelarut  dibebaskan panas (eksoterm) maka nilai entalpinya adalah negative maka kita dapat mengasumsikan adanya interaksi yang kuat antara pelarut dan zat terlarut hal ini menyebabkan pelarut memiliki tendensi yang kecil untuk menguap maka nilai tekanan uap larutannya akan jauh lebih kecil dibandingkan dengan nilai yang diramalkan dari hukum Raoult, peristiwa ini disebut sebagai “deviasi negative hukum Raoult”. Contoh melarutkan aseton dengan air atau campuran antara kloroform dengan aseton. Interaksi kuat aseton-air atau aseto-klorofom disebabkan terbentuknya ikatan hidogen diantara keduanya. Grafik deviasi negative ini akan tampak seperti ini:</p>
<p><a href="http://belajarkimia.com/wp-content/uploads/2010/07/deviasinegatifhukumraoult.jpeg"><img class="aligncenter size-full wp-image-416" title="deviasinegatifhukumraoult" src="http://belajarkimia.com/wp-content/uploads/2010/07/deviasinegatifhukumraoult.jpeg" alt="grafik tekanan uap larutan non ideal" width="325" height="343" /></a></p>
<p>Jika kita melarutkan zat terlarut dalam pelarut dimana terjadi penurunan suhu (endoterm) nilai entalpi positif, ini mengindikasikan adanya interaksi yang lemah antara pelarut dengan zat terlarutnya. Akibatnya zat terlarut dan pelarut sama-sama memiliki tendensi untuk menguap sehingga nilai tekanan uapnya akan jauh lebih tinggi dari hasil yang diperoleh (diprediksikan) dengan hukum raoult, peistiwa ini disebut sebagai “deviasi positif hukum raoult”. Contoh melarutkan etanol dalam heksana, bensena-etil alkohol, karbondisulfida-aseton, atau klorofom-etanol. Grafik deviasi positif hukum raoult digambarkan seperti ini:</p>
<p><a href="http://belajarkimia.com/wp-content/uploads/2010/07/deviasipositifhukumraoult.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-418" title="deviasipositifhukumraoult" src="http://belajarkimia.com/wp-content/uploads/2010/07/deviasipositifhukumraoult.jpg" alt="grafik larutan non ideal" width="200" height="222" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://belajarkimia.com/2010/07/penurunan-tekanan-uap-larutan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sifat Koligatif Larutan</title>
		<link>http://belajarkimia.com/2010/07/sifat-koligatif-larutan/</link>
		<comments>http://belajarkimia.com/2010/07/sifat-koligatif-larutan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Jul 2010 02:20:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indigoMorie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sifat Koligatif Larutan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://belajarkimia.com/?p=407</guid>
		<description><![CDATA[Apa saja sih &#8220;Sifat Koligatif&#8221; itu? Sifat koligatif yang akan kita bahas dalam ebook ini ada empat yaitu: Penurunan tekanan uap larutan Penurunan titik beku larutan Kenaikan titik didih larutan Tekanan Osmotik Lalu apa sih sebenarnya yang dimaksud dengan sifat koligatif itu? Sifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang ditentukan oleh jumlah molekul atau ion [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1>Apa saja sih &#8220;Sifat Koligatif&#8221; itu?</h1>
<p><a href="http://belajarkimia.com/wp-content/uploads/2010/07/sifat-koligatif.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-408" title="sifat koligatif" src="http://belajarkimia.com/wp-content/uploads/2010/07/sifat-koligatif.jpg" alt="sifat koligatif" width="224" height="300" /></a>Sifat koligatif yang akan kita bahas dalam ebook ini ada empat yaitu:</p>
<ol>
<li>Penurunan tekanan uap larutan</li>
<li>Penurunan titik beku larutan</li>
<li>Kenaikan titik didih larutan</li>
<li>Tekanan Osmotik</li>
</ol>
<p><strong>Lalu apa sih sebenarnya yang dimaksud dengan sifat koligatif itu?</strong></p>
<p>Sifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang ditentukan oleh jumlah molekul atau ion yang terdapat di dalam larutan. Sifat ini tidak ditentukan oleh jenis zat yang terlarut, atau ukuran zat tersebut. Jadi dua hal yang mempengaruhi sifat koligatif yaitu banyaknya zat terlarut di dalam larutan dan jenis pelarut apa yang digunakan untuk melarutkan zat tersebut.</p>
<p>Jadi apabila larutan glukosa dan larutan urea (dalam pelarut air) memiliki jumlah zat yang sama maka sifat koligatif keduanya pun akan sama pula. Jangan bingung dengan istilah &#8220;jumlah zat&#8221; yang saya pakai untuk definisi ini sebab saya memilih kata tersebut untuk mendefinisikan secara general, kata lain yang bisa dipakai sebagai pengganti adalah &#8220;konsentrasi&#8221;.</p>
<p>Beberapa buku ada yang menyebutkan bahwa sifat koligatif itu dipengaruhi oleh seberapa besar jumlah pelarut yang terdapat di dalam larutan. Jadi larutan NaCl yang fraksi molnya 1/4 dan 3/4 akan memiliki sifat koligatif yang berbeda karena jumlah H2O masing-masing larutan berbeda yaitu 3/4 dan 1/4 fraksi mol.</p>
<p>Ok. Sekarang kita bahas satu persatu ya tentang sifat koligatif ini. Untuk mempelajari sifat koligatif maka kunjungi halaman berikut ini.</p>
<ol>
<li><a title="penurunan tekanan uap" href="http://belajarkimia.com/penurunan-tekanan-uap-larutan/ ">Penurunan tekanan uap larutan</a></li>
<li><a title="penurunan-titik-beku-larutan" href="http://belajarkimia.com/penurunan-titik-beku-larutan/ ">Penurunan titik beku larutan</a></li>
<li><a title="kenaikan titik didih larutan" href="http://belajarkimia.com/kenaikan-titik-didih-larutan/ ">Kenaikan titik didih larutan</a></li>
<li><a title="tekanan osmotik" href="http://belajarkimia.com/tekanan-osmotik/ ">Tekanan Osmotik</a></li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://belajarkimia.com/2010/07/sifat-koligatif-larutan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menggunakan Tekanan Osmotik Untuk Menentukan Mr Protein</title>
		<link>http://belajarkimia.com/2009/08/menggunakan-tekanan-osmotik-untuk-menentukan-mr-protein/</link>
		<comments>http://belajarkimia.com/2009/08/menggunakan-tekanan-osmotik-untuk-menentukan-mr-protein/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Aug 2009 06:14:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indigoMorie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sifat Koligatif Larutan]]></category>
		<category><![CDATA[Soal-soal Kimia]]></category>
		<category><![CDATA[tekanan osmotik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://belajarkimia.com/?p=185</guid>
		<description><![CDATA[Suatu alat pengukur tekanan osmotic dipergunakan untuk menentukan massa molar suatu protein. 0,150 gram protein dilarutkan dalam 100 mL air pada suhu 3000K dan peralatan tersebut menunjukkan kenaikan 5 cm pada kolom air. Sebagai perbandingan diperlukan kenaikan 10 m air pada kolom air untuk tekanan sebanding dengan 1 atm. Hitung Mr protein tersebut. Jawab: Jika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu alat pengukur tekanan osmotic dipergunakan untuk menentukan massa molar suatu protein. 0,150 gram protein dilarutkan dalam 100 mL air pada suhu 300<sup>0</sup>K dan peralatan tersebut menunjukkan kenaikan 5 cm pada kolom air. Sebagai perbandingan diperlukan kenaikan 10 m air pada kolom air untuk tekanan sebanding dengan 1 atm. Hitung Mr protein tersebut.</p>
<p>Jawab:</p>
<p>Jika kenaikan 10 m pada kolom air setara dengan 1 atm maka kenaikan 0,05 m akan setara dengan tekanan sebesar:</p>
<p>= 0,05/10 x 1 atm<br />
= 0,005 atm</p>
<p>Tekanan osmotic dirumuskan dengan:</p>
<p>? = MRT<br />
0,005 = M x 0,08205 x 300<br />
0,005 = 24,615 M<br />
M = 2,03 x 10<sup>-4</sup> molar</p>
<p>Mol protein diperoleh dengan cara:</p>
<p>M = mol / V<br />
mol = M x V<br />
mol = 2,03 x 10<sup>-4</sup> x 0,1<br />
mol = 2,03 x 10<sup>-5</sup></p>
<p><sup> </sup></p>
<p>Dan massa molekul relative protein adalah:</p>
<p>Mol = g / Mr<br />
Mr = g / mol<br />
Mr = 0.150 g / 2,03 x 10<sup>-5</sup></p>
<p>Mr = 7385</p>
<p>Massa molekul relative protein tersebut adalah cukup besar mengingat protein adalah polier dari asam amino.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://belajarkimia.com/2009/08/menggunakan-tekanan-osmotik-untuk-menentukan-mr-protein/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mana Yang Memiliki Titik Didih Larutan Yang Paling Tinggi?</title>
		<link>http://belajarkimia.com/2009/08/mana-yang-memiliki-titik-didih-larutan-yang-paling-tinggi/</link>
		<comments>http://belajarkimia.com/2009/08/mana-yang-memiliki-titik-didih-larutan-yang-paling-tinggi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 06:09:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indigoMorie</dc:creator>
				<category><![CDATA[hukum raoult]]></category>
		<category><![CDATA[kenaikan titik didih]]></category>
		<category><![CDATA[Sifat Koligatif Larutan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://belajarkimia.com/?p=182</guid>
		<description><![CDATA[Manakah larutan berikut ini yang memiliki titik didih larutan paling besar? 3 g Ca(NO3)2 dalam 60 g air atau 6 g Ca(NO3)2 dalam 30 g air? Jawab: Untuk menjawab pertanyaan diatas maka kita harus membandingkan dan menghitung kenaikan titik didik larutan masing-masing. Mol Ca(NO3)2 = 3 / 164 g/mol = 0,018 Molalitas Ca(NO3)2 = 0,018 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Manakah larutan berikut ini yang memiliki titik didih larutan paling besar? 3 g Ca(NO3)2 dalam 60 g air atau 6 g Ca(NO3)2 dalam 30 g air?</p>
<p>Jawab:</p>
<p>Untuk menjawab pertanyaan diatas maka kita harus membandingkan dan menghitung kenaikan titik didik larutan masing-masing.</p>
<p>Mol Ca(NO3)2</p>
<p>= 3 / 164 g/mol</p>
<p>= 0,018</p>
<p>Molalitas Ca(NO3)2</p>
<p>= 0,018 mol / 0,060 Kg</p>
<p>= 0.3 m</p>
<p>Ca(NO3)2 terdisosiasi dalam air sebagai berikut:<br />
Ca(NO3)2 -&gt; Ca2+ + NO32-</p>
<p>Dari reaksi diatas dapat diperoleh bahwa I (factor van Hoff) = 3<br />
Kenaikan titik didihnya:</p>
<p>?T = i x kb x m</p>
<p>?T = 3 x 0.512 x 0.3 = 0.46</p>
<p>Titik didih larutan = 100 + 0,46 = 100.46 °C</p>
<p>Dengan cara yang sama maka larutan kedua diperoleh:</p>
<p>Mol Ca(NO3)2</p>
<p>= 6 / 164</p>
<p>= 0.037</p>
<p>Molalitas</p>
<p>= 0.037 / 0.030 Kg</p>
<p>=1.2</p>
<p>Kenaikan titik didih</p>
<p>?T = i x kb x m</p>
<p>?T = 3 x 0.512 x 1.2 = 1,8</p>
<p>Titik didih larutan = 100 + 1.8 = 101.8°C</p>
<p>Jadi titik didih larutan yang paling tinggi adalah titik larutan yang dibuat dari 6 g Ca(NO3)2 dalam 30 g air.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://belajarkimia.com/2009/08/mana-yang-memiliki-titik-didih-larutan-yang-paling-tinggi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menentukan Titik Didik &amp; Titik Beku Larutan NaCl</title>
		<link>http://belajarkimia.com/2009/06/menentukan-titik-didik-titik-beku-larutan-nacl/</link>
		<comments>http://belajarkimia.com/2009/06/menentukan-titik-didik-titik-beku-larutan-nacl/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Jun 2009 16:18:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indigoMorie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sifat Koligatif Larutan]]></category>
		<category><![CDATA[titik didik larutan NaCl]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://belajarkimia.com/?p=170</guid>
		<description><![CDATA[Ke dalam 250 gram air ditambahkan 11,7 gram garam dapur. Jika Kf=1,86 dan Kb= 0,52 dan Ar Na = 23 Cl = 35,5 maka tentukan: titik didih larutan titik beku larutan Jawab: Untuk menjawab soal-soal tentang sifat koligatif larutan maka tentukan dahulu apakah zat yang terlibat adalah elektrolit atau nonelektrolit. Ini penting sebab bila zat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ke dalam 250 gram air ditambahkan 11,7 gram garam dapur. Jika Kf=1,86 dan Kb= 0,52 dan Ar Na = 23 Cl = 35,5 maka tentukan:</p>
<ol>
<li><a title="kenaikan titik didih larutan" href="http://belajarkimia.com/kenaikan-titik-didih-larutan/ ">titik didih larutan</a></li>
<li><a title="penurunan titik beku larutan" href="http://belajarkimia.com/penurunan-titik-beku-larutan/ ">titik beku larutan</a></li>
</ol>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<p>Untuk menjawab soal-soal tentang <a title="sifat koligatif larutan" href="http://belajarkimia.com/sifat-koligatif-larutan/ ">sifat koligatif larutan</a> maka tentukan dahulu apakah zat yang terlibat adalah elektrolit atau nonelektrolit. Ini penting sebab bila zat yang terlibat adalah elektrolit maka Anda harus memasukkan vaktor Van Hoff ke dalam rumus yang akan dipakai.</p>
<p>Karena yang dipakai adalah garam dapur (NaCl) maka sudah pasti NaCl adalah elektrolit kuat.</p>
<p>Yang diketahui dari soal adalah:</p>
<p>massa air = 250 g<br />
massa NaCl = 11,7 g</p>
<p>molalitas NaCl dihitung dengan rumus:</p>
<p>= g/Mr x 100/p</p>
<p>= (11,7/58,5)x(1000/250)</p>
<p>= 0,8 m<br />
Faktor Van Hoff<br />
= {1+?(n-1) }<br />
= 1 + 1(2-1)<br />
= 2<br />
Kenaikan titik didih larutan (?Tb):</p>
<p>= m. Kb.i<br />
= 0,8 x 0,52 X 2<br />
= 0,832 <sup>0</sup>C</p>
<p>Titik didih larutannya:</p>
<p>= 100 + 0,832<br />
= 100,832 <sup>0</sup>C</p>
<p>Penurunan titik beku larutan (?Tf):</p>
<p>= m. Kf . i<br />
= 0.8 x 1,86 x 2<br />
= 2,976 <sup>0</sup>C</p>
<p>Dan titik beku larutannya adalah:</p>
<p>= 0-2,976<br />
= -2,976 <sup>0</sup>C</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://belajarkimia.com/2009/06/menentukan-titik-didik-titik-beku-larutan-nacl/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penurunan Titik Beku Larutan-Definisi dan Penyebabnya</title>
		<link>http://belajarkimia.com/2008/10/penurunan-titik-beku-larutan-definisi-dan-penyebabnya/</link>
		<comments>http://belajarkimia.com/2008/10/penurunan-titik-beku-larutan-definisi-dan-penyebabnya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Oct 2008 05:17:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indigoMorie</dc:creator>
				<category><![CDATA[definisi penurunan titik beku larutan]]></category>
		<category><![CDATA[penurunan titik beku larutan]]></category>
		<category><![CDATA[rumus titik beku larutan]]></category>
		<category><![CDATA[Sifat Koligatif Larutan]]></category>
		<category><![CDATA[tf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://belajarkimia.com/?p=66</guid>
		<description><![CDATA[Tahukah kamu apa yang dimaksud dengan penurunan titik beku? Kita tahu bahwa air murni membeku pada suhu 0oC, dengan adanya zat terlarut misalnya saja kita tambahkan gula ke dalam air tersebut maka titik beku larutan ini tidak akan sama dengan 0oC, melainkan akan turun dibawah 0oC, inilah yang dimaksud sebagai &#8220;penurunan titik beku&#8221;. Jadi larutan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.belajarkimia.com/images/diagramtf.JPG" alt="" align="left" /></p>
<p align="justify">Tahukah kamu apa yang dimaksud dengan penurunan titik beku? Kita tahu bahwa air murni membeku pada suhu 0<sup>o</sup>C, dengan adanya zat terlarut misalnya saja kita tambahkan gula ke dalam air tersebut maka titik beku larutan ini tidak akan sama dengan 0<sup>o</sup>C, melainkan akan turun dibawah 0<sup>o</sup>C, inilah yang dimaksud sebagai &#8220;penurunan titik beku&#8221;.</p>
<p align="justify">Jadi larutan akan memiliki titik beku yang lebih rendah dibandingkan dengan pelarut murninya. Sebagai contoh larutan garam dalam air akan memiliki titik beku yang lebih rendah dibandingkan dengan pelarut murninya yaitu air, atau larutan fenol dalam alkohol akan memiliki titik beku yang lebih rendah dibandingkan dengan pelarut murninya yaitu alkohol.</p>
<p align="justify">Mengapa hal ini terjadi? Apakah zat terlarut menahan pelarut agar tidak membeku? Penjelasan mengapa hal ini terjadi lebih mudah apabila dijelaskan dari sudut pandang termodinamik sebagai berikut.</p>
<p align="justify">Contoh,  air murni pada suhu 0<sup>o</sup>C. Pada suhu ini air berada pada  kesetimbangan antara fasa cair dan fasa padat.  Artinya kecepatan air berubah wujud dari cair ke padat atau sebaliknya adalah sama, sehingga bisa dikatakan fasa cair dan fasa padat pada kondisi ini memiliki  potensial kimia yang sama, atau dengan kata lain tingkat energi kedua fasa adalah sama.</p>
<p align="justify">Besarnya potensial kimia dipengaruhi oleh temperatur, jadi pada suhu tertentu potensial kimia fasa padat atau fasa cair akan lebih rendah daripada yag lain, fasa yang memiliki potensial kimia yang lebih rendah secara energi lebih disukai, misalnya pada suhu 2<sup>o</sup>C fasa cair memiliki potensial kimia yang lebih rendah dibanding fasa padat sehingga pada suhu ini maka air cenderung berada pada fasa cair, sebaliknya pada suhu -1<sup>o</sup>C fasa padat memiliki potensial kimia yang lebih rendah sehingga pada suhu ini air cenderung berada pada fasa padat.</p>
<p align="justify">Apabila ke dalam air murni kita larutkan garam dan kemudian suhunya kita turunkan sedikit demi sedikit, maka dengan berjalannya waktu pendinginan maka perlahan-lahan sebagian larutan akan berubah menjadi fasa padat hingga pada suhu tertentu akan berubah menjadi fasa padat secara keseluruhan. Pada umumnya zat terlarut lebih suka berada pada fasa cair dibandingkan dengan fasa padat, akibatnya pada saat proses pendinginan berlangsung larutan akan mempertahankan fasanya dalam keadaan cair, sebab secara energi larutan lebih suka berada pada fasa cair dibandingkan dengan fasa padat, hal ini menyebabkan potensial kimia pelarut dalam fasa cair akan lebih rendah (turun) sedangkan potesnsial kimia pelarut dalam fasa padat tidak terpengaruh.</p>
<p align="justify">Maka akan lebih banyak energi yang diperlukan untuk mengubah larutan menjadi fasa padat karena titik bekunya menjadi lebih rendah dibandingkan dengan pelarut murninya. Inilah sebab mengapa adanya zat terlarut akan menurunkan titk beku larutannya. Rumus untuk mencari penurunan titik beku larutan adalah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://www.belajarkimia.com/rumus/tf.JPG" alt="" /></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;">Keterangan:</p>
<ul>
<li>delta Tf = Penuruan titik beku</li>
<li>m = molalitas larutan</li>
<li>Kf = Tetapan konstantat titik beku larutan</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Jangan lupa untuk menambahkan faktor van hoff pada rumus diatas apabila larutan yang ditanyakan adalah larutan elektrolit.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://belajarkimia.com/2008/10/penurunan-titik-beku-larutan-definisi-dan-penyebabnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tekanan Uap Pelarut Murni dan Tekanan Uap Larutan</title>
		<link>http://belajarkimia.com/2008/08/tekanan-uap-pelarut-murni-dan-tekanan-uap-larutan/</link>
		<comments>http://belajarkimia.com/2008/08/tekanan-uap-pelarut-murni-dan-tekanan-uap-larutan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Aug 2008 05:02:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indigoMorie</dc:creator>
				<category><![CDATA[defini tekanan uap]]></category>
		<category><![CDATA[Sifat Koligatif Larutan]]></category>
		<category><![CDATA[tekanan uap larutan]]></category>
		<category><![CDATA[tekanan uap pelarut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://belajarkimia.com/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[Kadangkala dalam mempelajari sifat koligatif larutan maka kita sulit sekali untuk membayangkan apa yang dimaksud dengan tekanan uap pelarut murni (unutk lebih memudahkan kita sebut sebagai tekanan uap pelarut) dengan tekanan uap larutan. Ambilah sebuah botol gelas dan isi dengan air seperempat bagian saja, kemudian tutup botol tersebut dan letakkan di meja untuk beberapa jangka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kadangkala dalam mempelajari<a title="sifat koligatif larutan" href="http://belajarkimia.com/sifat-koligatif-larutan/ "> sifat koligatif larutan</a> maka kita sulit sekali untuk membayangkan apa yang dimaksud dengan tekanan uap pelarut murni (unutk lebih memudahkan kita sebut sebagai tekanan uap pelarut) dengan tekanan uap larutan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ambilah sebuah botol gelas dan isi dengan air seperempat bagian saja, kemudian tutup botol tersebut dan letakkan di meja untuk beberapa jangka waktu tertentu. Apa yang terjadi dengan air di dalam botol tersebut?</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau kamu berpendapat bahwa ada sebagian molekul-molekul air yang berubah wujud menjadi gas, maka jawaban kamu benar!  Molekul-molekul air akan secara kontinu menguap ke ruang kosong botol hingga mencapai kesetimbangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Gunakan alat pengukur tekanan untuk mengukur tekanan uap air yang ada di dalam botol, Tekanan uap molekul-molekul air yang terdapat di dalam ruang kosong botol inilah yang kita sebut sebagai “tekanan uap pelarut murni”. (perhatikan gambar)</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://www.belajarkimia.com/images/tekananuappelarut.jpg" alt="" /></p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana dengan tekanan uap larutan?Ambil botol yang lain dan isi dengan larutan garam sampai seperempat bagain saja, kemudian tutup botol tersebut dan letakkan di meja untuk beberapa saat. Dan kemudian ukur tekanan uap yang ada di dalam botol.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://www.belajarkimia.com/images/tekananuaplarutan.jpg" alt="" /></p>
<p style="text-align: justify;">Tekanan uap yang ada di dalam botol yang berisi larutan garam inilah yang kita sebut sebagai <a title="tekanan uap larutan" href="http://belajarkimia.com/penurunan-tekanan-uap-larutan/ ">“tekanan uap larutan”</a>.Tekanan uap larutan yang kita pelajari di bab sifat koligatif larutan adalah tekanan uap untuk larutan yang zat terlarutnya adalah zat yang bersifat nonvolatile (artinya zat-zat yang tidak mudah menguap).</p>
<p style="text-align: justify;">Contoh zat ini adalah garam dapur, gula, pupuk urea, dan sebagainya.Jadi zat-zat nonvolatil ini tidak memiliki kecenderungan unutk menguap. Jadi yang menguap pada dua percobaan diatas adalah sama-sama molekul pelarutnya yaitu air, akan tetapi bedanya adalah satu untuk tekanan uap pelarut (karena di dalam botol hanya berisi air saja), dan yang lain tekanan uap larutan (sebab dalam botol berisi larutan garam).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://belajarkimia.com/2008/08/tekanan-uap-pelarut-murni-dan-tekanan-uap-larutan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

